Laman

Sabtu, 04 April 2009

Kapal Motor Tenggelam, 11 Penumpang Tewas




Tolitoli:Sebuah kapal motor berpenumpang 17 orang tenggelam diterjang ombak di perairan laut Mangkalian, Kalimantan Timur. Lima orang berhasil selamat, seorang tewas dalam perjalanan, dan 11 orang dilaporkan hilang.

Informasi yang dikumpulkan dari lapangan menyebutkan,
kapal tersebut berangkat dari pulau Balikukup dengan
tujuan kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, Sabtu (21/1) malam. Kapal tak bernama itu tenggelam hari Minggu (22/1) pagi. Kencangnya ombak di Selat Makassar membuat kapal berkapasitas 3 ton itu terombang-ambing dan tenggelam.

Lima penumpang berhasil diselamatkan oleh kapal motor nelayan yang melintas di sekitar perairan tersebut.
Menurut seorang korban, Ashari (23), seluruh rombongan yang menumpang di kapal itu adalah satu keluarga yang akan kembali ke Tolitoli. Ia berasal dari Desa Kapas,
Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli.

Ashari mengaku sudah lama merantau di Kalimantan Timur
dan berencana pulang ke kampung halamannya. Saat di tengah laut, kapal motor mereka disapu ombak hingga
tenggelam.

Satuan penanganan korban Bencanana dan Pengungsi Kabupaten Tolitoli, Nasaru Abdul Latif saat dikonfirmasi Kamis ini (26/1) mengatakan 11 warga yang hilang adalah fitriani (2) Agustina (19) Koher (50) Eleng (40) Naim (50), dan Yasin (40) yang juga sebagai pemilik kapal. Nama lainnya adalah Rustamina, Wawan Rusni, Kaharudin dan Sumang.

Sementara korban yang selamat, Ashari (23), Arsyad (40), Empet (40), Kaman (40) dan Hardi (7 ). Satu warga yang tewas adalah Jesrian (3).

Lima korban selamat kini masih mendapatkan perawatan
intensif di Rumah Sakit Umum Mokopido Tolitoli.

KM Dharma Manggala Kandas Di Tanjung Bira

KM Dharma Manggala yang sejak awal Februari 2003 melayani penyeberangan Bira (Bulukumba)-Pamatata, Kabupaten Selayar (Sulsel), mengalami musibah tidak jauh dari dermaga tanjung Bira, Bulukumba, Rabu malam.

Kapal jenis "roro" yang memuat 107 penumpang, empat buah bus, satu unit mobil kanvas dan lima sepeda motor bertolak dari dermaga Bira menuju Selayar pukul 19.00 wita. Namun 45 menit setelah meninggalkan dermaga itu, tiba-tiba ombak besar menghantam, seiring dengan bertiupnya angin kencang, sehingga kapal kandas sekitar 100 meter dari tempatnya bertambat.

Hantaman ombak yang cukup deras disertai angin kencang pada malam itu membuat kapal kandas dan miring sehingga air masuk ke perut kapal setinggi tiga meter.

Nakhoda kapal bersama ABK-nya dibantu beberapa aparat pelabuhan Tanjung Bira berhasil mengevakuasi seluruh penumpang ke darat, sementara kendaraan terendam air dan sulit diangkut dari dalam perut kapal tersebut.

"KM. Dharma Manggala yang sebelumnya beroperasi di Jawa Timur melayari rute Surabaya - Kaliangat, tidak tenggelam tetapi cuma kandas," kata Kepala cabang Dharma Lautan Utama, Budiyono yang dihubungi di Makassar, Rabu malam.

Menurutnya, pelabuhan Bira tampak agak dangkal dan airnya terkadang surut saat kapal akan berlayar, apalagi pada malam musibah tersebut tiba-tiba dihantam ombak keras dan angin kencang.

Saat kapal tersebut lepas tambat dari pelabuhan Bira, cuaca dalam keadaan baik tetapi ketika kapal baru meninggalkan dermaga sekitar 100 meter, tiba-tiba berhembus angin kencang disertai ombak besar (Bombang Tellue, bahasa Bugis), menjadikan kapal kandas.

Semua penumpang berhasil dievakuasi, sementara kendaraan akan diupayakan dievakuasi hari Kamis ini bekerjasama instansi terkait di pelabuhan itu, katanya seraya menyatakan, KM. Dharma Manggala yang dinakhodai Beatus Badi Idong tidak dalam posisi tenggelam, tetapi hanya kandas tidak jauh dari dermaga itu.

Pihak perusahaan tetap bertanggungjawab kepada seluruh penumpang kapal tersbut dan akan memberikan biaya yang ingin kembali ke Makassar maupun yang akan melanjutkan pelayaran ke Selayar, katanya menambahkan.

Kadis Perhubungan Sulsel, Drs. H. Tadjuddin Noor yang dihubungi secara terpisah membenarkan hal itu namun belum mengetahui pasti penyebab terjadinya musibah kapal tersebut.

Titik Rawan Bencana Luput dari Pantauan BMG




Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Wilayah IV Makassar mengimbau agar pemerintah kota dan kabupaten di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat memasang alat peringatan dini bencana pada sejumlah titik rawan gempa. "Sebaiknya setiap daerah memasang alat untuk peringatan dini. Berdasarkan skala prioritas, wilayah yang harus didahulukan adalah Bone, Sinjai, atau Selayar di bagian selatan Sulawesi Selatan. Selain itu, Parepare atau Pinrang di bagian utara dan Polewali Mandar di Sulawesi Barat," kata Hanafi Hamzah, Kepala Subbidang Pelayanan Jasa BMG Wilayah IV Makassar, Selasa (3/4).

Evakuasi KM Nusa Damai Sebaiknya Diambil Alih Pusat

Proses evakuasi Kapal Motor (KM) Nusa Damai yang tenggelam di kolam labuh Pelabuhan Ippi, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, sebaiknya diambil alih pemerintah pusat. Pemerintah Kabupaten Ende dinilai tak mampu lagi menangani evakuasi kapal yang tenggelam pada 26 September 2004 itu. "Pelabuhan Ippi sudah dua tahun lebih nyaris tak ada kegiatan. Hanya kapal-kapal kargo yang masuk, kapal besar tak bisa masuk," kata ekspeditor dari PT Varia Ende Raya, Joni Rasyid, mengeluhkan dampak dari tenggelamnya kapal tersebut, Selasa (3/4). Bupati Ende Paulinus Domi mengaku, pemerintah kabupaten tak punya dana untuk evakuasi. Karena itu, hal tersebut akan dilakukan pihak ketiga.

Tragedi Karamnya KMP Tampomas II


Kecelakaan pelayaran nasional yang cukup tragis di Indonesia adalah tenggelamnya kapal motor penumpang KMP Tampomas II di sekitar kepulauan Masalembo (114°25′60″BT — 5°30′0″LS) Laut Jawa (termasuk ke dalam wilayah administratif provinsi Jawa Timur). KM Tampomas II terbakar di laut dan karam pada tanggal 27 Januari 1981, merenggut ratusan nyawa penumpangnya.
Tampomas II berlayar dari Jakarta menuju Sulawesi dengan membawa puluhan kendaraan roda empat, sepeda motor dan 1054 penumpang terdaftar serta 82 kru kapal. Perkiraan mengatakan total manusia di kapal tersebut adalah 1442 orang (perkiraan tambahan penumpang gelap). Dalam kondisi badai laut di malam hari tanggal 25 Januari beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar, didugapercikan api timbul dari puntung rokok yang melalui kipas ventilasi yang menjadi penyebab kebakaran. Para kru melihat dan gagal memadamkannya dengan tabung pemadam kebakaran portable. Api menjalar ke dek lain yang berisi muatan yang mudah terbakar, asap menjalar melalui jalur ventilasi dan tidak berhasil ditutup. Api semakin menjalar ke kompartemen mesin karena pintu dek terbuka. Selama dua jam tenaga utama mati, generator darurat pun gagal dan usaha memadamkan api seterusnya sudah tidak mungkin.

Tigapuluh menit setelah api muncul para penumpang diperintahkan untuk segera menaiki sekoci, hal ini pun sangat lambat sebab hanya satu jalan bagi penumpang untuk diturunkan ke sekoci. Sebagian penumpang terjun bebas ke laut menghindari kobaran api, sebagian lagi menunggu di dek dan panik menunggu pertolongan selanjutnya.

Di tanggal 26 Januari Laut Jawa mengalami hujan deras, api menjalar ke ruang mesin di mana terdapat ruang bahan bakar yang tidak terisolasi. Pagi hari 27 Januari terjadi ledakan dan membuat air laut masuk ke ruang mesin (ruang propeler dan ruang generator terisi air laut), yang membuat kapal menjadi miring 45° dan tenggelam 30 jam sejak percikan api pertama menjalar.

Sampai tanggal 29 Januari tim SaR gagal melakukan pencarian karena besarnya badai laut, dan 5 hari kemudian 80 orang yang selamat dalam sekoci ditemukan 150Km dari lokasi kejadian karamnya Tampomas. Estimasi tim menyebutkan 431 tewas (143 ditemukan mayatnya dan 288 hilang/karam bersama kapal) dan 753 berhasil diselamatkan. Sumber lain (pemerintah?) menyebutkan 666 tewas.

Kapal yang dinakhodai oleh Kapten Rifai ini merupakan kapal pembelian dari Jepang. Isu yang beredar adalah kapal motor yang sudah berumur lebih dari 25 tahun yang dibeli dari Jepang (Screw Steamer 6073 tahun 1956 berukuran 6140 GRT [wikipedia]) yang dimodifikasi tahun 1971. Hasil investigasi kapal tersebut adalah kapal bekas yang dipoles dan dijual dengan harga dua kali lipatnya.

Tak ada pejabat yang bertanggung jawab, semuanya berujung dengan kesalahan awak kapal. Hasil penyidikan Kejaksaan Agung yang menugaskan Bob Rusli Efendi Nasution sebagai Kepala Tim Perkara pun tidak ada tuntutan kepada pejabat yang saat itu memerintah, salah satunya J.E. Habibie sebagai Sekretaris Ditjen Perla. Skandal ini kemudian ditutup-tutupi oleh pemerintahan Suharto-Habibie, kendati banyak tuntutan pengusutan dari sebagian anggota parlemen. Dalam suatu acara dengar pendapat yang diadakan oleh DPR-RI tentang kasus ini, Menteri Perhubungan menolak permintaan para wakil rakyat untuk menunjukkan laporan Bank Dunia yang merinci pembelian kapal bekas seharga US$8.5juta itu. Makelar kapal Tampomas II — Gregorius Hendra yang mengatur kontrak pembelian antara Jepang dan pemerintah Indonesia itu juga lepas dari tuntutan Kejaksaan Agung.

Setelah Tampomas pelayaran nasional mulai diwadahi dengan kapal yang lebih besar dan cukup mewah yaitu Kerinci, Kambuna, Umsini dan Rinjani. Dua kali saya pernah nongkrong 25 jam di dek belakang ruang kemudi KMP Rinjani selama perjalanan Tanjung Perak - Makassar, juga perjalanan pulangnya. Sekarang KMP Rinjani dihibahkan kepada TNI Angkatan Laut oleh PT Pelni.

Kapal Kayu Terhempas Ombak, Enam Tewas

Setelah melakukan pencarian selama dua hari, akhirnya tim SAR di perairan Selayar,

menemukan korban terakhir tenggelamnya kapal kayu KM Abang Sayang. Korban tersebut bernama Khaeruddin, 35, ditemukan disekitar Patu 100 meter

dari pesisir Pantai Selayar.

Hal tersebut dikemukanan Sekretaris Satuan Penanggulangan Bencana Kabupaten Selayar Sisbullah Kamaruddin, saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (30/12).

Seperti diketahui, Khaeruddin adalah satu dari 13 penumpang KM Abang Sayang yang terbalik Jumat (28/12) lalu di perairan Selayar saat melakukan penyeberangan dari Pelabuhan Barang-Barang menuju Pulau Bahuluang,

Kecamatan Bonto Sikuyu, Kabupaten Selayar, karena terhantam ombak setinggi

lima meter terjadi di sekitar Selat Appatana sebelah selatan Kabupaten

Selayar.

Akibatnya, enam penumpang termasuk Khaeruddin dinyatakan tewas dan tujuh lainnya dinyatakan selamat setelah ditemukan tim SAR terombang-ambing di lautan selama sehari semalam.

Dari tujuh penumpang yang selamat, enam di antaranya sudah dijemput keluarga sementara satu penumpang selamat,

Ibrahim, 36, masih dirawat di Puskesmas Lawo, Kabupaten Selayar karena masih perlu perwatan intensif karena masih

perlu tambahan cairan tubuh.

Sementara, enam penumpang yang dinyatakan tewas dan ditemukan Sabtu

(29/12), semua sudah dikebumikan oleh keluarganya di kampung halaman masing-masing. Sementara Khaeruddin, korban yang baru ditemukan, baru akan

dijemput dan dibawa sementara ke Puskesmas Lowa hingga keluarganya dari

Bahuluang menjemput.

"Atas kejadian tersebut, Pemerintah Kabupaten Selayar berencana memberi

santunan bagi korban yang tewas dan selamat, ungkap Sisbullah. Hanya saja,

Hisbullah belum dapat menyebutkan berapa santunan yang akan diberikan bagi korban kapal tersebut.

Kapal Abang Sayang yang terbalik karena terhantam ombak setinggi lima meter tersebut, berdasarkan laporan tim SAR diketahui, mengangkut sejumlah pedagang dengan bobot melebihi 20 ton dan dinahkodai Herman, 39, meninggalkan Pulau Barang-Barang menuju Bahuluang pukul 17.00 wita.

Berdasarkan lamanya perjalanan, harusnya mereka bisa tiba ditujuan pukul 21.00 wita, tapi sayangnya sekitar pukul 19.00 wita, terjadi badai besar dan kapal merekapun terhempas dan akhirnya terbalik.

Tragedi Ferry Levina dan Ke-TIDAK-selamatan Transportasi


Tragedi ganda menimpa lagi lautan kita. Setelah kebakaran dan menelan korban, kapal Ferry Levina menimbulkan korban justru pada orang yang sedang menyelidiki kebakaran itu. Selain duka atas hilangnya nyawa para profesional media dan polisi secara mengenaskan, untuk melihat kedepan banyak timbul pertanyaan. Bambang Harymurti menyatakan di televisi bahwa kematian mereka merupakan "senseless deaths" dan harus menjadi tanggungjawab perusahaan media yang kurang memberi survival training. Pihak lain mengatakan otoritas KNKT seharusnya menjamin keselamatan tamu di kapal berbahaya itu.

Wimar's World Rabu 28 Februari akan membahas kejadian Levina dalam konteks keselamatan (dan ke-tidak-selamatan) sarana transportasi di Indonesia

Sekilas Tragedi Levina

Kapal Motor (KM) Levina 1 milik PT Praga Jaya Santosa dibuat 27 tahun lalu dan dibeli dari Hayazuru Maru pada awal 2000. Levina 1 terbakar di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, pada Kamis pagi (22/2) sekitar pukul 04.30. Kapal penumpang rute Pelabuhan Tanjung Priok-Pangkal Balam, Bangka, tersebut baru berangkat berlayar sekitar tiga jam sebelumnya.
Berdasar manifes perjalanan (pemberitahuan pabean mengenai jenis pengangkut dan daftar muatan yang diangkut yang didaftarkan pada saat keberangkatan - Red) kapal ini mengangkut 275 penumpang termasuk awak kapal, 31 unit truk, dan 8 kendaraan roda empat. Namun kemudian diketahui jumlah penumpang seluruhnya 316 orang karena anak-anak dan bayi yang tidak memiliki tiket tidak masuk penghitungan.

Dari kesaksian para korban yang selamat, sumber api diduga dari sebuah truk yang parker di dek kendaraan. Muatan truk masih dalam penyelidikan tapi diperkirakan mengandung bahan kimia yang mudah terbakar.

Ketika tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri dan juga wartawan sedang melakukan penyelidikan mengenai sebab-musabab kebakaran kapal tersebut pada Minggu (25/2). Kapal terbalik dan tenggelam dimana saat itu ada 26 orang berada di atas kapal.
Secara keseluruhan dari dua peristiwa tersebut hingga Selasa (27/2) dilaporkan 282 orang selamat dan 51 orang meninggal dunia. Sembilan orang sisanya masih belum ditemukan dengan tiga diantaranya seorang kameramen SCTV dan dua anggota Puslabfor.

Tragedi Levina 1 merupakan kisah teranyar rentetan tragedi dari ketidak-amanan transportasi di Tanah Air. Sebelumnya kita telah dibuat pilu dengan tenggelamnya KM Senopati Nusantara dan hilangnya pesawat Adam Air. Untuk KM Senopati 233 orang korban selamat dan 46 orang meninggal dunia. Sedangkan yang masih hilang atau belum ditemukan sebanyak 349 orang. Sedangkan Adam Air menelan korban 102 orang.

Tragedi transportasi tersebut telah membuat masyarakat menuntut sejumlah pejabat terkait termasuk Menteri Perhubungan Hatta Radjasa mundur. Namun baru setelah peristiwa Levina 1, Menteri Perhubungan Hatta mengganti sejumlah pejabat struktural di lingkungan Departemen Perhubungan. Direktur Jenderal Perhubungan Udara M Iksan Tatang, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Harijogi, dan juga ketua KNKT termasuk dalam daftar pejabat yang diganti. Sebelum ada berita pergantian tersebut mereka dijadwalkan akan menjadi tamu dalam Wimar’s World.

Update 27 Feb: Data Kecelakaan Transportasi 2007

KM Levina 1 (Jakarta – Bangka)

* Tanggal kejadian : Kamis, 22 Februari 2007
* Kejadian : Terbakar dan tenggelam di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta
* Dugaan penyebab : Api dari sebuah truk bermuatan zat kimia di dek kapal
* Jumlah penumpang : 316 (manifes 275 penumpang)
* Jumlah korban : 54 orang (50 akibat kapal terbakar), enam hilang

Adam Air KI 172 (Jakarta – Surabaya)

* Tanggal kejadian : 21 Februari 2007
* Kejadian : Kecelakaan saat mendarat sehingga badan pesawat patah
* Dugaan penyebab : Hardlanding di Bandara Juanda, Surabaya
* Jumlah penumpang : 148
* Jumlah korban : Tidak ada korban meninggal
* Penghentian pencarian : -

Kereta Ekonomi Bengawan (Solo - Jakarta)

* Tanggal kejadian : 29 Januari 2007
* Kejadian : Tiga gerbong terguling di stasiun Bangodua, Cirebon
* Dugaan penyebab : Kereta anjlok akibat sarana tidak memadai
* Jumlah penumpang : -
* Jumlah korban : Tidak ada korban tewas

Kereta Ekonomi Bengawan (Solo – Jakarta)

* Tanggal kejadian : 16 Januari 2007
* Kejadian : Salah satu gerbong terjebur ke sungai di Banyumas, Jawa Tengah
* Dugaan penyebab : Kereta anjlok akibat sarana tidak memadai
* Jumlah penumpang : -
* Jumlah korban : 5 tewas dan sedikitnya 50 orang cidera

Adam Air KI 574 (Surabaya – Menado)

* Tanggal kejadian : 1 Januari 2007
* Kejadian : Hilang dan tenggelam di perairan Majene, Sulawesi Barat
* Dugaan penyebab : Belum diketahui karena kotak hitam belum berhasil diangkat dari dasar laut
* Jumlah penumpang : 102 orang
* Jumlah korban : 102 orang
* Penghentian pencarian : 27 Januari 2007 setelah kapal USNS Mary Sears milik Amerika Serikat mendeteksi lokasi kotak hitam pada 25 Januari

KM Senopati Nusantara (Teluk Kumai, Kalimantan – Semarang)

* Tanggal kejadian : 30 Desember 2006
* Kejadian : Karam di perairan Kepulauan Mandalika, Jepara, Jawa Tengah
* Dugaan penyebab : Kelebihan penumpang dan angkutan serta cuaca buruk
* Jumlah penumpang : Manifes 628
* Jumlah korban : 46 meninggal, 349 hilang
* Penghentian pencarian : 21 Februari 2007